TAROMBO MARGA SIREGAR
KETURUNAN
OMPU RAJA IMBANG TUA
DARI
SIALAGUNDI
SIPIROK, ANGKOLA
Tarombo Marga Siregar dari Sialagundi disusun untuk mengenang Natoras Parlagutan:
Ir. Haji Hasan Basyarudin Nasution, gelar Sutan Borotan Pandapotan
dengan
Hajjah Dorom Harahap, gelar Namora Oloan
yang berdiam di jalan Belitung No.15, Baranangsiang, Bogor
Jawa Barat.
Catatan Penyusun
Hubungan kekerabatan marga Harahap dari Batuna Dua Jae, marga Siregar dari Siala-gundi, marga Harahap dari Pargarutan Gunung Manaon, dan marga Nasution dari Muara Botung, berawal dari Siti Ayat Harahap, gelar Ompu Raodana, adik kandung Dr Hamzah Harahap dari Batuna Dua Jae, yang menikah dengan Haji Abdul Majid Siregar, gelar Syekh Abdul Majid, untuk menjadi ina (ibu) anak-anak marga Siregar yang berdiam di Sialagundi. Dari Sialagundi mereka pindah ke Sitamiang di Padang Sidempuan dan menetap disana. Putri sulung Syekh Abdul Majid bersama Ompu Raodana ini ialah Maimunah Siregar, gelar Ompu ni Rusmini, lahir di Sialagundi tahun 1900.
Dari Sialagundi Maimunah Siregar (1900-1977), gelar Ompu ni Rusmini, menikah de-ngan Bilalung Harahap (1884-1936), gelar Sutan Mulia untuk menjadi ina anak-anak marga Harahap yang berdiam di Pargarutan Gunung Manaon. Setelah Ompung Sutan Mulia pen-siun sebagai School Opziener (Penilik Sekolah) Onderwijs van Angkola en Sipirok, masih di zaman penjajahan Hindia Belanda, ia kembali ke Angkola dan menetap di Padang Si-dempuan tinggal di jalan Lubuk Raya no.2 Tanah Lapang. Oleh cucu-cucunya Ompung Maimunah juga dipanggil Ompung Sidimpuan.
Adapun putri sulung Sutan Mulia bersama Ompu ni Rusmini dari Pargarutan Gunung Manaon ialah Dorom Harahap, lahir 19 September 1920 di Patisah Ilir, Medan. Dari Pa-dang Sidempuan Dorom Harahap (1920-2001), gelar Namora Oloan, juga Ompu ni Titik, menikah dengan H. Ir. Hasan Basyarudin Nasution (1915-1983), gelar Sutan Borotan Pan-dapotan, untuk menjadi ina anak-anak marga Nasution yang berdiam di Muara Botung, Madina. Dalam lingkungan masyarakat kehutanan Bogor, Dorom Harahap lebih dikenal dengan panggilan “Ibu Hasan”, di rumah ia disapa anak-anaknya dengan panggilan “Umak”, sedangkan oleh cucu-cucunya ia dinamakan “Ompung Bogor”. Setelah Ompung Sutan Borotan pensiun dari kehutanan, ia memutuskan untuk menetap di Bogor dan berdiam di jalan Belitung no.15, Baranangsiang.
MARGA SIREGAR DARI SIALAGUNDI
SIPIROK
----------------------------------------------
Pendahuluan
Tarombo dalam masyarakat Batak berawal dari budaya
lisan menyampaikan pesan kepada kahanggi dalam perjalanan generasi. Dengan semakin
besarnya jumlah kahanggi, baik yang masih berdiam di Bona Bulu maupun yang telah
berdiam di perantauan, budaya lisan harus berubah menjadi budaya tulis.
Memasuki budaya tulis, tarombo awalnya disuratkan di
kulit kayu, bilah bambu, atau lain-nya dalam aksara Batak. Dengan kedatangan agama
Islam ke Nusantara sekitar abad ke-13, dan masuk ke Tanah Batak dalam Perang
Paderi (1825-1833) yang mengajarkan tulisan Arab, maka aksara ini lalu digunakan
untuk menuliskan tarombo. Dengan diperkenalkan-nya bahasa Melayu bertulisan Latin
oleh pemerintah Hindia Belanda memasuki abad ke-20 di tanah-air, tarombo pun lalu
ditulis dengan aksara Latin berbahasa Melayu/Indonesia.
Masyarakat Batak di Tapanuli menganut keturunan garis kebapaan
atau patrilenial. Suhut (Batak), Keluarga Batih (Indonesia), Nuclear Family
(Inggris), adalah masyarakat terkecil dalam masyarakat yang dipimpin
Suhutsihabolonan. Yang disebut terakhir ini juga sekaligus jadi kepala adat,
dan berhak menurunkan nama marga kepada
anak-anaknya me-nurut Adat Batak. Cara sebaliknya berlaku di Sumatera Barat,
dimana ibulah si pemegang hak menurunkan marga kepada anak-anak, meski dilakukan
oleh saudara laki-laki sejalan Adat Minang.
Dalam sistim kekeluargaan garis kebapaan, terdapat dua
cara menyusun tarombo sesuatu marga untuk disebarkan kepada kahanggi, lalu
disampaikan kepada generasi penerus, yak-ni: pohon keluarga (Indonesia),
family tree (Inggris), stamboom (Belanda); dan Perjalanan
Generasi (The Passage of Generation).
Pada cara pohon keluarga
silsilah disusun dari atas ke bawah, dimulai dari leluhur pemer-satu sesuatu
marga yang diketahui, dilanjutkan dengan keturunannya dari garis laki-laki sampai
saat ini, disuratkan di atas kertas lebar, melahirkan bangun segitiga/piramida
yang duduk pada alasnya. Ada juga yang menyuratkannya memancar, juga diatas
kertas lebar, tetapi dalam lingkaran-lingkaran sepusat dengan leluhur pemersatu
berada di tengah. Cara ini pun masih tergolong pohon keluarga. Selain dari dua
cara ini, masih terdapat beberapa cara lain untuk menyusun tarombo dalam
masyarakat Batak.
Pada cara Perjalanan Generasi, tarombo juga disusun dari atas kebawah, juga diawali lelu-hur pemersatu sesuatu marga yang diketahui, tetapi diatas berlembar-lembar kertas kuarto, atau folio, sebagaimana tarombo marga Siregar dari Sialagundi ini. Pada cara ini, tiap ge-nerasi terpisah satu dari lainnya, sehingga nama-nama yang tertulis sama berasal dari kebi-asaan orang Batak mengambil nama kakek (ompung), nama amantua (uak), dan lainnya, tidak menimbulkan kekeliruan terhadap nama-nama yang tersurat sama tercantum pada ge-nerasi sebelum atau sesudahnya. Selain dari itu, pada cara ini terdapat ruang luas untuk mencantumkan: tanggal, bulan, tahun lahir, alamat, pendidikan, pekerjaan, pengalaman hi-dup, dan lain sebagainya, yang akan bermanfaat bagi generasi penerus.
Kahanggi keturunan Ompu Raja Imbang Tua, marga Siregar
dari Sialagundi tidak dira-gukan bertambah bilangannya dalam perjalanan waktu.
Berdampingan dengan mereka ber-kembang pula Anakboru, dan Moranya. Dahulu
ketiga kelompok keluarga ini masih ber-diam di Bona Bulu, tetapi kini sebagian
dari mereka telah berada di tanah perantauan, tanah-air dan mancanegara.
Dapatkah
kekerabatan Dalihan Na Tolu yang diajarkan leluhur silam ketika semuanya ma-sih
bermukim di Bona Bulu dilanjutkan? Dalam zaman kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi ini tentu saja dapat, asalkan ada Lembaga Hatobangon (Tetua Adat) marga
Si-regar keturunan Ompu Raja Imbang Tua dari Sialagundi yang bersedia menjadi
pemikir (think tank), menyusun rencana, dan melaksanakan pembangunan Sumber
Daya Manusia dari Bona Bulu hingga perantauan yang sangat berharga ini.
Mudah-mudahan ada!
GENERASI PERTAMA
Sayur Matua Siregar, dengan istri boru…….dari….. . Ia
ma na paganagana adat Batak di rura ni (di lembah) Sibualbuali, berdiam di
Parau Sorat, keturunannya:
1. Ompu Raja Imbang Tua.
GENERASI KEDUA
Ompu Raja Imbang Tua, marga Siregar dari
Sialagundi, dengan istri...….boru ……. dari…. ..bermukim di…….., keturunannya:
1. Mangaraja Mandugu.
GENERASI KETIGA
Mangara Mandugu Siregar, dengan istri….boru…….dari……..., keturunannya:
1. Sutan Namora.
2. Abu Bakar
3. Mara Sutan
GENERASI KEEMPAT
1. Sutan Namora, dengan istri boru Harahap dari Sirumambe, lalu digantikan boru Si-tompul dari Simaninggir, keturunannya:
1.Raja Aman
2. Haji Abu Bakar Siregar, gelar Tuan Syekh Abdul Majid (18..-1936), dengan kedua istrinya:
a. Pertama di Singapura
Rokiah, boru Melayu dari semenanjung Malaya.
Ketika itu Abu Bakar Siregar tinggal
di pulau Singapura menanti kesempatan berangkat ke Tanah Suci: Mekah dan
Madinah, Saudi Arabia, untuk menunaikan ibadah Haji, sekaligus tinggal disana untuk
belajar Agama Islam, masih di zaman penjajahan Hindia Belanda. Dalam masa
penantian itu Abu Bakar Siregar menikah
dengan Rokiah, keturunannya:
1. Fatimah (pr).
b.
Kedua di Indonesia
Setelah kembali dari Tanah Suci, Haji Abu Bakar Siregar berusaha mengajak
Rokiah ke Sialagundi,
akan tetapi tidak disetujui keluarga Singapura. Setibanya di
kampung Haji
Abu Bakar lalu menikah
lagi dengan Siti Ayat Harahap, gelar Hajjah Aminah
(18..-1950)
dari Batuna Dua Jae. Mereka
awalnya berdiam di Sialagundi (Sipirok), kemudian pindah ke Sitamiang di Padang Sidempuan.
Adapun Siti Ayat ialah iboto Dr. Hamzah Harahap dari Batuna Dua yang kemudian merantau ke
Pematang Siantar untuk
menetap di ibukota Tanah Simalungun itu. Keturunannya:
1.
Maimunah (pr), lahir….1900 di Sialagundi.
2. Rehanan (pr), lahir…..di Sialagundi.
3.
Rosila (pr), lahir…..di Sialagundi.
4. Siti Anna (pr), lahir5 Mei
1914 di Sialagundi.
5. Siti Amba (pr), lahir…..di Sialagundi.
6.
Siti Jarada (pr), lahir…..di Sialagundi.
3. Mara Sutan dengan istri boru Harahap Tunggal Huayan dari Huta Tonga, keturunan- nya:
1. Bata Mulia
2. Nurman
3. Koddam
4. Kotan
5.
6.
7.
GENERASI KELIMA
1. Cucu Sutan Namora
Raja Aman, dengan istri boru ….dari…., bermukim di Palembang keturunannya:
1. Leli Utama
2. Titik
3. Torkis, gelar Sah Putera Sutan
Namora.
4.
5.
2. Cucu Haji Abu Bakar
Siregar, gelar Tuan Syekh Abdul Majid.
a. Di Singapura
Fatimah Siregar, menikah dengan Muhammad orang Melayu, dan berdiam di
Singapura, keturunannya:
1. Saodah (pr), lahir…di
Singapura.
2. Halijah (pr), lahir…di
Singapura
3. Sakwiyah (pr), lahir…di
Singapura
4. Maznah (pr), lahir…di
Singapura
5. Haji Noh bin Muhammad,
lahir…di Singapura
6. Zainab (pr), lahir…di
Singapura
b. Di Indonesia
1. Maimunah Siregar,
gelar Ompu ni Rusmini (lahir
1900 - Wafat hari Rabu 16 Februari 1977),
menikah dengan Bilalung 1884-1936), gelar Sutan Mulia,
marga Harahap dari Pargarutan Gunung
Manaon. Terakhir mereka tinggal di jalan Lubuk
Raya no.2/jalan Yogja no.2/ jalan Cut Njak Dhien
no.2, Tanah Lapang,
Padang Sidempuan. Keturunannya:
1. Dorom (pr), lahir 19 September 1920 di Medan.
2. Soritaon, lahir 10 September 1922 di Pematang Siantar.
3. Naogun (pr), lahir 9 Nopember 1924 di Pematang Siantar.
4. Maspero, lahir 20 Februari
1927 di Bengkalis, Pulau Bengkalis.
5. Khalijah (Khadijah, pr), lahir 23 Mei 1930 di Kotanopan.
6. Gulbahar, lahir 13 Maret 1933 di Kotanopan.
7. Gulbahri, lahir 28 Agustus 1934 di Padang Sidempuan.
2. Rehanan Siregar, menikah dengan……, marga
Harahap dari Simasom dan bermukim
di Simasom.
Katurunannya:
1. Regen, lahir
……..di Simasom.
2. Nurlela (pr), lahir ……..di
Simasom.
3. Gunung Mulia (Tagor), lahir
……..di Simasom.
4. Lenggana (pr), lahir ……..di
Simasom.
5. Latifah (pr), lahir ……..di
Simasom.
6. Gading, lahir ……..di
Simasom.
7. Rahmat (pr), lahir ……..di
Simasom.
8. Berlian (pr), lahir ……..di
Simasom.
9. Delima (pr), lahir ……..di
Simasom.
3. Rosila Siregar, gelar……..th (19..-19..) menikah dengan Effendi,
marga Harahap dari Bagas
Godang Siharang Karang,
pemilik “Toko Buku Harahap dan Penerbit” di
Semarang, Jawa Tengah.
Katurunannya:
1. Nurcahaya (pr), lahir ……..di
……...
2. Agustina (pr), lahir ……..di
……....
3. Rostina (pr), lahir……….di…………..
4. Lumongga (pr), lahir ……..di
……....
5. Utir (pr), lahir ……..di
……...
6. Muslima (pr), lahir ……..di
……...
7. Oloan (Jakarta), lahir
……..di ……...
8. Darajat (Semarang), lahir
……..di ……....
9. Mustafa, lahir ……..di ……...
10. Amirusni (Amik, pr), lahir ……..di ……...
11. Pahlawansyah (Wansyah), lahir ……..di ……...
.
4. Siti Anna Siregar, gelar Ompu Nadia Komanechi (1914 -2002),
menikah dengan Johor,.marga
Harahap dari Pargarutan
Gunung Manaon, bermukim di jalan Rawasari Barat I/12, Jakarta.
Katurunannya:
1. Farida, lahir ……..1947 di Padang Sidimpuan.
2. Sinta, lahir 9 April 1949 di Padang Sidimpuan.
3. Ingrad, lahir ……1950 di Padang Sidimpuan.
5. Siti Amba Siregar, gelar……(19..-19..), menikah dengan Amir, marga
Harahap
dari Pintu Langit,
bermukim di……….. Katurunannya:
1. Parlagutan, lahir ……..di Padang
Sidimpuan.
2. Purnama (pr), lahir ……..di
Padang Sidimpuan.
3. …………(pr),
lahir ……..di Padang Sidimpuan.
4. Mahyar (pr), lahir ……..di
Padang Sidimpuan.
5. Sulaiman, lahir ……..di
Padang Sidimpuan.
6. Zubaidah (pr), lahir ……..di
Padang Sidimpuan.
6. Siti Jarada (pr), meninggal gadis.
3. Cucu Mara Sutan
1. Beta Mulia Siregar, dengan istri boru ….dari…., keturunannya:
1. Mara, gelar Mara Katib
2. Sabarudin Siregar, gelar
Baginda Majid, dengan istri……., bermukim di
Sialagundi. Keturunannya:
1.
3. Abdul Munir
4. Masria (pr)
5. Nurmina (pr)
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
2. Nurman Siregar dengan istri boru ….dari…., keturunannya:
1. Abdul Majid
2. Husin
3. Bali
4. Mina (pr)
5.
6.
7.
8.
9.
GENERASI KEENAM
III-1-1. a. Di Singapura
1. Saodah (Mak Sulung, disingkat Maklung) menikah dengan Tahir dari
Singapura.
2. Halijah menikah
dengan Muhammad Noor dari Singapura, keturunannya:
1. Mariam, lahir…1943 di
Singapura.
2. Abdul Wahab,
lahir……di Singapura.
3. Aminah, lahir……di
Singapura.
4. Ramilah, lahir……di
Singapura.
5. Abdul Hamid, lahir……di Singapura.
6. Zainab, lahir……di
Singapura.
7. Abdul Majid,
lahir……di Singapura.
8. Sahat, lahir……di
Singapura.
9. Nurida, lahir……di
Singapura.
10. Rusman, lahir……di
Singapura.
11. Rusli, lahir……di
Singapura.
12. Ruslan, lahir……di
Singapura.
13. Nuraini, lahir……di
Singapura
14. Abubakar, lahir……di
Singapura.
3. Sakwiyah, menikah dengan Johar dari Singapura, keturunannya:
1. Abdul Karim, lahir……di
Singapura.
2. Abdul Jabar, lahir……di
Singapura.
3. Muhammad Isa,
lahir……di Singapura.
4. Muhammad Jiwa,
lahir……di Singapura.
4. Maznah, menikah
dengan Madon dari Singapura, keturunannya:
1. Abdul Latif, lahir……di
Singapura.
2. Nur Latifah,
lahir……..di Singapura.
3. Abdul Azis,
lahir……di Singapura.
4. Abdul Gani, lahir……di
Singapura.
5. Azizah, lahir……di
Singapura.
6. Abdul Rahim, lahir……di
Singapura.
7. Rahimah,
lahir……di Singapura.
8. Rohani, lahir……di
Singapura.
9. Abdul Razak, lahir……di
Singapura.
5. Haji Noh (Pak Bungsu) bin Muhammad, dengan istri Habsyah bermukim di
Singapura,
keturunannya:
1. Muhammad, lahir……di Singapura.
2. Rosilah, lahir……di
Singapura
3. Ishak, lahir……di
Singapura.
4. Azmi, lahir……di
Singapura.
5. Azman Nooh, lahir……di Singapura.
6. Azhar, lahir……di
Singapura.
6. Zainab, menikah dengan Ahad dari
Singapura, keturunannya:
b. Di Indonesia
1. Hj. Dorom Harahap, gelar Namora Oloan, Ompu ni Titik
(1920-2001), menikah de-ngan Ir. Hasan Basyarudin (1915-1983), gelar Sutan
Borotan Pandapotan, marga Nasution dari Muara Botung, tinggal di Jalan Belitung
no.15, Baranagsiang, Bo-gor. Keturunannya:
1.
Rusmini (Mini), lahir 7 Juli 1942 di Sidikalang.
2. Nurhasni, lahir……1943 di Padang
Sidempuan.
3. Nilawati (Butet), lahir 17 Mei 1945 di
Tarutung.
4. Fatmasari (Taing), lahir 27 juli 1947 di
Padang Sidempuan.
5. Pentariris Yunita (Penta), lahir 18 Juni
1949 di Padang Sidempuan.
6. Nurhayati (Adek), lahir 2 Mei 1951 di
Tanjung Pinang.
7. Arif Mulia (Uncok), lahir 18 April 1959
di Pematang Siantar.
8. Tety Rahmasari (Tety), lahir 2 September
1961 di Pematang Siantar.
2. Soritaon Harahap,
gelar……..(1922-1997) dengan istri Roslina, marga Lubis boru Kuria Tamba-
gan
dari Mandailing. Setelah berpisah, lalu digantikan Silvy boru keturunan Tionghoa
dari Muntok
di Pulau Bangka. Anak-anaknya:
1. Melvina,
lahir……di……
2. Yenny, lahir……di…….
3. Naogun Harahap
(1924-2004), menikah dengan Haji Hasan, marga Siregar dari Situmba.
Keturunannya:
1. Chairuddin
2. Ani,
lahir……di……
3. Tini, lahir……di……
4. Deliana (pr), lahir……di……
5. Butet (pr), lahir……di……
6. Taing, lahir……di……
7. Uncok, lahir……di……
4. Maspero Harahap,
gelar……(1928-1994) dengan istri Delima, boru Siregar dari Sihodahoda Padang Bolak. Keturunannya:
1. Lila (pr), lahir……di……
2. Edi Manaon, lahir……di……
3. Harris, lahir……di……
4. Asrul, lahir……di……
5. Adek, lahir……di……
6. Rizal, lahir……di……
5. Khadijah Harahap
(1930-1988), menikah dengan Ir. Hasan Basri, marga Daulae dari Sibuhuan. Keturunannya:
1. Risanti (Yanti), lahir……di Jakarta.
2. Yasin (Oki), lahir……di Jakarta.
3. Safrina (Rina), lahir……di Jakarta.
6. Gulbahar Harahap,
gelar……(1933-1989) dengan istri Farida Hanum, boru Regar dari Siala-
agundi. Anak-anaknya:
1.
2.
7. Gulbahri Harahap (1934-1963) adalah mahasiswa UGM Yogyakarta,
meninggal di Bandung dan dikebumikan di Bogor.
2 - 1. Regen Harahap, gelar……(19..-19..) dengan istri Maimunah, boru Lubis
dari….. bermukim di Sitamiang Padang Sidempuan. Mantan polisi berpangkat
Inspektur pada zaman PRRI. Keturunannya:
1. Tagor
2. Nurlela Harahap, menikah dengan Abdul Rasyid,
marga Siregar dari Sipirok Bagas Lombang (Gu-
ru Kombet). Abdul
Rasyid pernah menjadi guru sekolah di Huta Padang, Sipirok.Keturunannya:
1. Khairani
2. Nilam Sari
3. Sontang
4.
5.
6.
7.
3. Tagor
Gunung Mulia Harahap, gelar…….(19..-19..) dengan istri Rosada, boru Regar dibesarkan di Tegal, Jawa Tengah, dan
berdiam di Jakarta.
4.
Lenggana Harahap, menikah dengan…….dari Kalimantan.
5.
Latifah Harahap, menikah dengan ………., marga Siregar………..
6. Gading Harahap, gelar…….(19..-19..)
dengan istri …….., boru…..bermukim di Medan.
7. Rahmat
Harahap, gelar……(19..-19..) dengan istri Titik, boru Regar dari Sialagundi.
8.
Berlian Harahap, menikah dengan……, marga Siregar………..
9. Delima Harahap, menikah dengan…….,
marga …..dari…….
3 - 1. Nurcahaya Harahap, menikah dengan Hari, marga Siregar dari
Pasirampolu. Ia adalah babere dari
Mr.Amir Syarifuddin
Harahap mantan Perdana Menteri R.I., dan Mr. Arifin Harahap mantan Menteri
Keuangan R.I. Mereka berdiam di Jakarta. Keturunannya:
1.
2. Agustina Harahap, menikah dengan Moelia, marga Siregar dari Sabungan,
babere Ir. Tarip Harahap pegawai Departemen PU Jakarta. Mereka berdiam di
Jakarta, keturunannya:
1.
3. Rostina Harahap, menikah
dengan H. M Yusuf, marga Siregar dari……. Bermukim
di Perumnas Klender, Jakarta.
Keturunannya:
1. Abdul Roup, lahir……di……
2. Mira, lahir……di……
3. Maruli, lahir……di……
4. Lumongga Harahap, menikah dengan Hasan Alfia, marga Siregar dari Pd.
Bolak.
5. Utir Harahap, menikah dengan Amir, marga Siregar dari Simaninggir,
adik kan-dung Omar Abdalla, mantan Dirut Bank Bumi Daya Jakarta. Mereka
bermukim di Jakarta. Keturunannya:
6. Muslima Harahap, menikah dengan Harris, marga Nasution dari Padang
Matinggi bermukim di Jakarta.
7. Oloan Harahap, gelar…….(19..-19..) dengan istri Ayu, boru dari Jawa
Tengah bermukim di Jakarta.
8. Darajat Harahap, gelar……(19..-19..) dengan istri Joice (Zubaidah),
boru Manado dibesarkan di Semarang, Jawa
Tangah, bermukim di Semarang.
9. Mustafa Harahap,
gelar…….(19..-19..) dengan istri……, boru Nasution dari Padang Sidempuan
bermukim di Jakarta.
10. Amirusni Harahap, menikah dengan Ir. Ahmad, marga Hutagalung dari
Sima-ngumban, Sipirok, bermukim di Jakarta.
11. Prof. Dr. Pahlawansyah Harahap, gelar……(19..-19..) dengan istri…..,
boru dari Jawa Tengah.
4 - 1. Dra. Farida Harahap, menikah dengan Arif Wibowo dari Semarang
Jawa Tengah.
2. Dra. Sitta Harahap, menikah Anwar Sani, marga Siagian dari
Simaninggir Sipirok.
3. Drg.Ingrad Harahap, menikah dengan Muhammad Siddik S.H. dari
Banjarmasin, Kalimantan Timur.
5 - 1. Parlagutan Harahap, gelar……(19..-19..)
dengan istri………., boru dari Cipanas
Periangan.
2. Purnama Harahap, menikah dengan Pandapotan, marga Lubis dari ……..
bermukim di Jakarta.
3. Nurhajati Harahap, menikah dengan …….., marga Siregar dari Padang
Bolak.
4. Mahjar Harahap, menikah dengan …….,
marga …………..dari …………..
5. Sulaiman Harahap, gelar…….(19..-19..)
dengan istri……., boru…….dari….
6. Zubaedah Harahap, menikah dengan
……., marga ………….dari………
GENERASI KETUJUH
IV-4.a. Di Singapura
1. Saodah (Mak Sulung, disingkat Maklung)
2. Putra ke-5 Halijah bersuamikan Muhammad
Noor:
Abdul Hamid, dengan istri
Zaleha boru Singapura, bermukim di Block 708 # 03-193, Pasir Ris Dr. 10,
Singapore 510708. Tel: 65843536 / 98218727.
Keturunannya:
1. Nur Hamidah
(Nomi pr), lahir…1981 di Singapura.
2. Nur Azizah
(Nuzi,pr), lahir…1985 di Singapura.
3. Muhammad Soleh,
lahir…1991 di Singapura.
3. Sakwiyah dengan suami Johar dari
Singapura.
4. Maznah dengan suami Madon dari
Singapura.
5. Putra ke-3 Haji Noh (Pak Bungsu)
bin Muhammad beristrikan Habsyah:
Azman Nooh, dengan istri Sirikit
Chandapohl dari Thailand, bermukim di
Block 143,
Marsiling Road # 02-2118, Singapore 730143. Keturunannya:
1. Puteri Azy
lahir…..1987 di Bangkok
2. Ixiz Aritzman,
lahir…..1992 di Bangkok.
3.
6. Zainab dengan suami Ahad dari Singapura.
b. Di
Indonesia
1. Hj. Ir Rusmini Sri Rahayu Nasution,
gelar Namora Oloan menikah dengan Ir. H. M. Rusli, marga Harahap dari Hanopan,
Sipirok, tinggal di jalan Batu
Pancawarna I/ 2A Pulomas, Jakarta. Keturunanya:
1.Arfilmiansyah
Parlindungan (Ari), lahir 11 Juli 1974 di Jakarta.
2.Budiadiliansyah
Pardomuan (Budi), lahir 30 Maret 1976 di Jakarta
3.Altinai Molunasari
(Inai, pr), lahir 23 Juni 1978 di Jakarta.
4.Mulia Firmansyah (Mulia), lahir 2
Juli 1982 di Jakarta.
2. Nurhasni meninggal usia 3 tahun.
3. Hj. Nilawati Nasution S.H., menikah
dengan H. Darwis, SH, marga Siregar dari Baringin Sipirok, berdiam di jalan
Intan no. 20 Pulomas Jakarta. Keturunannya:
1 .Nur Hasanah Titik
Darnila (Titik, pr), lahir 11 Maret 1974 di Jakarta.
2. Muhammad Qodri (Odi),
lahir 4 Oktober 1975 di Jakarta.
4. Fatmasari Nasution, menikah dengan
Ir. Amrul, marga Hutasuhut dari Sipirok, berdiam di jalan Belitung no.15,
Bogor. Keturunannya:
1.Adhalina Anggiasari
(Anggi, pr), lahir 28 September 1982 di Jakarta.
5. Hj. Ir. Pentariris Junita Nasution ,
menikah dengan Akinaga MPA, marga Sinaga dari Pakkat, Sibolga. Bekerja di Departemen Perdagangan dan bertugas di New York, Amerika Serikat. Setelah
kembali tinggal di jalan Intan no.17 Pulomas Jakarta. Keturunannya:
1.Indira Konora (Noya,
pr), lahir 11 Maret 1980 di Jakarta.
2.Mira Kemalasari (Mira,
pr), lahir 1 April 1985 di Jakarta.
3.Tamara Nur Amalia
(Tara, pr), lahir 2 Oktober 1986 di Jakarta.
6. Hj. Nurhayati Nasution, menikah
dengan H. Drs.Irfan, marga Lubis dari
Habincaran, Mandailing, bermukim di jalan Wadas II/19 Jatiwaringin, Pondok
Gede, Be-kasi.Keturunannya:
1.Shameira Rizkia (Ira,
pr), lahir 23 April 1987 di Sibolga.
2.Annisa Saskia (Ica,
pr), lahir 4 Januari 1990 di Bogor.
7. H. Ir.Muhammad Arif Mulia Nasution,
dengan istri Rita boru Jawa dari Jakarta bermukim di jalan Permata 284/285 Blok
D, Jakasempurna, Bekasi. Pendidikan: UGM Yogyakarta, lalu pindah ke STIPER dan
meraih Sarjana Kehutanan. Keturunannya:
1. Lendy Noor Amina
(Lendy, pr), lahir 17 April 2003 di Bekasi.
8. Ir Tety Rahmasari Nasution, menikah
dengan Ir.Akmal Gani MSc. dari Bogor. Awalnya berdiam di jalan Belitung no.
15, Bogor. Kemudian pindah ke jalan Wadas II/17 Jatiwaringin, Pondok Gede,
Bekasi. Keturunannya:
1.Mirza Akmarizal Gazali
(Mirza), lahir 11 April 1993 di Jakarta.
2.Tatiyana Anindia
Ramadhani (Tati, pr), lahir 7 Maret 1995 di Jakarta.
3.Kevin Abdulazis Gazali
(Kevin), lahir 22 Juni 1999 di Jakarta.
GENERASI
KEDELAPAN
(Akan dilanjutkan generasi penerus marga Siregar dari Sialagundi)
Catatan.
Tarombo, marga
Siregar dari Sialagundi ini ialah kelanjutan dari penuturan yang biasa di-lakukan
orang tua di kampung kepada anak-anak yang menjelang dewasa, saat akan me-rantau
untuk bersekolah atau mencari nafkah, atau ketika akan berumah tangga.
Maksudnya agar mereka saling mengetahui, dan faham peran dan kedudukan masing-masing
dalam perhelatan Adat Batak.
Menurut Adat
Batak sebagaimana tertera dalam surat Tumbaga Holing, kekerabatan dalam
masyarakat di Tapanuli terdiri dari: Kahanggi, Anakboru dan Mora yang menjadikan
keke-rabatan Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga). Dan yang disebut terakhir
ialah apa yang di-sebut keluarga besar
oleh masyarakat Batak, dan mengandung pengertian dibawah ini:
Kahanggi, adalah mereka yang datang dari satu
marga, dalam hal ini marga Siregar dari Si-alagundi, keturunan Ompu Raja Imbang
Tua, dimanapun berada.
Anakboru, ialah berbagai
marga yang mempersunting anak gadis keturunan Ompu Raja Imbang Tua dibawa
berumah tangga ke berbagai kampung/luhat untuk menjadi ibu anak-anak mereka
disana.
Mora, dinamakan juga hula-hula, ialah berbagai marga
yang mendatangkan ibu kepada ke-turunan Ompu Raja Imbang Tua darimana pun
berdatangan, guna meneruskan generasi.
Dengan Dalihan
Na Tolu, masyarakat Batak diatur kehidupannya dahulu, kini, dan di masa akan
datang, guna mendatangkan bahagia kepada semua. Dalam tarombo juga terbaca peran dan kewajiban dari anggotanya.
Adalah tugas Lembaga Hatobangon (Tetua Adat) marga Siregar keturunan
Ompu Raja Im-bang Tua dari Sialagundi untuk melengkapi dan melanjutkan
pembuatan tarombo ini.
Sumber Tulisan
Tarombo ini
disusun sejak dari tanggal 10 April 1999, didapat dari keterangan:
1. Hajjah Dorom Harahap (Ny.Ir.
Hasan Basyarudin Nasution).
2.
Hajjah Ir.Rusmini S.R.Nasution
3. Hajjah Nilawati Hasution, SH.
4. Ir. Anwar Sani Siagian (Suami
dra.Sitta, babere Ompung Siti Anna)
5. Abdul Hamid (Anggota keluarga berasal
dari Singapura).
6. Azman Nooh (Anggota keluarga berasal
dari Singapura).
7. Sabarudin Siregar, gelar
Baginda Majid (Naposo), yang mengirim bahan tarom-
bo lewat surat langsung dari
Sialagundi tanggal 10 Desember 2003;
lalu disusun kedalam Perjalanan Generasi oleh:
Hajjah
Ir.Rusmini S.R.Nasution.
Jalan Batu
Pancawarna no.I/2A Pulomas
Jakarta
Timur. 13210. Tel: (021) 472-2243
Indonesia.
----------Selesai-----------


